Karya: Fara Keysa Aqila
Senja sore itu tak sempat menampilkan warna jingganya. Awan kelabu menggantung rendah, menurunkan hujan yang kian lebat di penghujung jam kuliah kala itu. Di sebuah halte dekat kampus, rintik air memukul atap angkutan umum yang tak kunjung datang, bersahut dengan suara kendaraan dan langkah - langkah mahasiswa yang bergegas meninggalkan kelas.
Mereka berdiri berderet, sebagian memeluk tas erat - erat, sebagian sibuk menatap layar ponsel, sisanya memandangi jalan basah yang memantulkan cahaya lampu. Wajah - wajah muda itu membawa lelah yang berbeda lelah oleh tugas, tenggat waktu, dan pikiran tentang hari esok yang belum tentu lebih ringan.
Di kota, pulang bagi mahasiswa sering kali bukan sekadar kembali ke tempat tinggal. Ada yang menuju kos sempit dengan dinding tipis, ada yang pulang ke rumah keluarga, dan ada pula yang sekadar mencari tempat untuk beristirahat sebelum kembali bergelut dengan tugas-tugas yang menumpuk. Tidak semua perjalanan memiliki tujuan yang benar - benar disebut rumah.
Hujan turun semakin rapat, membuat halte berubah menjadi ruang singgah sementara. Di tempat itu, mahasiswa dari jurusan dan latar belakang berbeda bertemu tanpa saling mengenal, dipersatukan oleh satu hal yang sama kelelahan setelah seharian menjalani peran sebagai pencari masa depan. Kota tetap bergerak, sementara mereka menunggu, berharap angkutan datang sebelum hujan benar-benar menghabiskan sore.
Katanya, rumah tidak selalu berbentuk bangunan. Bagi sebagian mahasiswa, rumah bisa berupa kamar kos yang sunyi tapi aman, suara keluarga di seberang telepon, atau teman yang bersedia mendengar keluh tanpa menghakimi. Di tengah tuntutan akademik dan tekanan untuk segera “menjadi”, rumah sering kali berubah menjadi sesuatu yang dicari, bukan dimiliki.
Ketika senja akhirnya menghilang dan lampu jalan menyala satu per satu, angkutan umum mulai berdatangan. Mahasiswa naik dan pergi ke arah yang berbeda-beda. Namun pertanyaan tentang pulang tetap tertinggal apakah setiap perjalanan benar - benar membawa pulang, atau hanya mengantar tubuh beristirahat sebelum esok kembali berjuang?