Karya : Salwa Rizqy Oktavia
Masa SMA adalah masa yang
sangat menyenangkan, sangat seru, banyak cerita, dan banyak pengalaman yang
bisa didapatkan. Bicara tentang masa SMA, pasti setiap orang memiliki kisah
yang berbeda-beda, begitu pun dengan aku. Juli 2022 adalah bulan pertamaku
memasuki zona putih abu-abu. Tak disangka, belum genap satu tahun aku berada
pada masa itu, aku bisa mencapai salah satu impianku sejak kecil untuk pergi
jalan-jalan ke luar negeri. Bahkan, tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa
aku bisa mencapainya pada masa putih abu-abu.
Sebelum aku memutuskan
untuk pindah ke SMA Bakti Cendikia, aku bersekolah di Madrasah Aliyah Almatera
atau Pondok Pesantren Almatera Tembarak Temanggung. Ketika aku duduk di kelas
10, sekolahku mengadakan program Students
Culture Exchange atau pertukaran pelajar. Akan tetapi, kegiatan ini
pastinya dipungut biaya, maka dari itu, aku harus benar-benar berpikir sebelum
memutuskan apakah aku akan mengikuti program itu atau tidak.
Pada suatu hari di waktu
penjengukan santri, aku bertemu kedua orang tuaku. Aku memberi tahu keduanya
mengenai kegiatan Students Culture
Exchange. Ternyata, kedua orang tuaku sudah mengetahui akan hal tersebut.
Ketika itu, aku berkata pada ibuku, "Ibu, sebenarnya aku ingin ikut
pertukaran pelajar, tetapi biayanya mahal.”
"Ibu dan bapak sudah
membahas hal tersebut. Kalau memang kamu ingin, insyaallah ibu bapak siap
membiayai. Dengan ikut kegiatan ini, pasti kamu akan mendapat banyak sekali
pengalaman. ”
"Tapi itu mahal,
Bu."
"Kalau Allah sudah
berkehendak, pasti akan dimudahkan, Nak.”
Setelah beberapa lama aku
mengobrol dengan kedua orang tuaku, masih saja aku bingung apakah aku akan
mendaftar program itu atau tidak.
Seiring berjalannya
waktu, banyak teman-temanku yang sudah
mendaftar program tersebut, di
antaranya adalah Rayya, yang merupakan sahabatku sejak masa SMP. Beberapa kali
Rayya mengobrol denganku untuk membahas program tersebut. Akan tetapi, tetap
saja aku masih bingung apakah aku akan mendaftar atau tidak.
Ternyata, takdir berkata
lain. Oleh karena aku yang terlalu lama berpikir, ketika aku sudah memutuskan
untuk mendaftar, ternyata pendaftaran Students
Culture Exchange sudah ditutup. Kuota tersisa untuk dua orang yaitu satu
perempuan dan satu laki-laki khusus siswa- siswi yang diterima lewat jalur
bebas biaya.
Seketika itu aku merasa
sedih dan menelepon ibuku untuk memberi tahu akan hal tersebut. Kemudian, ibuku
memberiku banyak nasihat agar aku tidak sedih dan menyarankanku untuk mencoba
mengikuti tes program bebas biaya. Ibuku mengatakan bahwa tidak ada salahnya
untuk mencoba karena tugas kita hanya berusaha dan berdoa setelah itu kita
harus mempasrahkan kepada Allah. Selain itu dengan mengikuti tes program bebas
biaya pasti akan memberikanku pengalaman yang besar.
Satu hari setelah aku
menelepon ibuku, aku langsung mendaftar program bebas biaya meski aku berpikir
tidak akan lolos program itu karena banyaknya siswa di sekolahku dan pasti
hanya siswa-siswi berprestasi yang ikut mendaftar program tersebut. Benar saja,
pada saat aku melihat daftar nama siswa-siswi yang akan mengikuti tes bebas
biaya tersebut, ternyata hanya dipenuhi
oleh siswa-siswi berprestasi kelas 12 dan kelas 11. Bahkan, aku tidak menemukan
satu nama pun dari daftar itu yang menunjukkan adanya siswa-siswi kelas 10 yang
akan mengikuti tes tersebut. Kemudian, aku bertanya pada salah satu panitia
"Ustadzah, memang anak kelas 10 tidak ada yang mendaftar program bebas
biaya, ya?."
"Sampai sekarang
hanya kamu satu-satunya siswi kelas 10 yang berani mendaftar program ini dan
hari ini adalah batas terakhir pendaftaran. Jadi, kemungkinan tidak ada lagi
siswa kelas 10 yang akan mendaftarkan diri.“
Tiga hari berlalu.
Akhirnya, hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Hari di mana siswa-siswi yang mendaftar program bebas
biaya akan mengikuti tes. Tes dilakukan dua hari. Pada hari pertama akan
dilaksanakan tes wawancara dan pada hari kedua akan dilaksanakan tes kemampuan
nonakademik, bahasa Arab, dan bahasa Inggris secara lisan.
Pada saat melaksanakan
tes wawancara, aku mendapatkan antrian akhir. Aku menunggu sambil membawa buku
cetak pelajaranku karena waktu tes ini bersamaan dengan penilaian tengah
semester yang sedang berlangsung di sekolahku. Dari pukul 13.00, aku tetap
menunggu hingga akhirnya aku masuk ruang wawancara pada pukul 17.00. Perasaanku
campur aduk pada saat memasuki ruang wawancara karena aku kaget ternyata
penguji tes wawancara ini berjumlah enam
orang yang terdiri dari dua ustadzah dan empat ustadz yang merupakan para
petinggi di sekolahku.
Aku terus berdzikir di
dalam hati sepanjang tes itu berlangsung. Berbagai pertanyaan dilontarkan
secara bergantian oleh enam orang tersebut dan tak jarang aku merasa kesulitan
dalam menjawabnya. Akan tetapi, alhamdulillah aku bisa menjawab seluruh
pertanyaan tersebut.
Pada hari kedua, tes
dilaksanakan setelah dzuhur, jadi aku memilih untuk menunggu di asrama meskipun
dengan hati yang cemas karena
membayangkan semua hal mengenai tes tersebut termasuk penguji
yang pasti merupakan para
petinggi yang ada di Pondok Pesantren Almatera sama seperti tes di hari
pertama. Pada saat aku berada di dalam asrama,
tiba-tiba temanku memanggilku dan memberi tahu bahwa orang tuaku datang
untuk menjengukku. Setelah mendengar itu,
aku langsung lari untuk bertemu orang tuaku. Aku menceritakan bahwa tes
pada hari pertama sangat menegangkan, kemudian hari ini aku akan mengikuti tes
lagi dan itu sangat menegangkan untukku.
Ibuku terus memberiku motivasi dan dukungan. Tak lupa juga kakakku yang ketika
itu datang bersama ibuku untuk membawa pulang
barang-barang karena akan pindah sekolah dari Almatera.
Pada mulanya, kakakku
juga bersekolah di sini, namun beberapa waktu lalu dia pulang karena sakit dan
akhirnya memutuskan untuk pindah
sekolah. Jadi, sedih yang aku rasakan
saat itu berlipat ganda karena akan
ditinggal kakakku yang akan pindah sekolah, juga karena tes yang akan dilakukan
pada hari kedua itu.
Pada saat ibu dan ayahku
sedang memberi banyak motivasi kepadaku, tiba-tiba temanku datang dan mengatakan
bahwa aku dipanggil salah satu panitia tes program bebas biaya. Kemudian, aku
langsung pergi untuk menemuinya.
Ternyata, panitia itu
memanggilku untuk memberi tahu bahwa tes akan diajukan. Tes akan dimulai 15
menit lagi dan nomor urut pertama adalah aku. Aku langsung panas dingin setelah
mendengar pernyataan itu, kemudian aku langsung berlari menemui orang tuaku
sambil menangis dan mengatakan hal itu.
Kemudian, orang tuaku berkata kepadaku bahwa aku pasti bisa dan mereka
menyuruhku untuk pergi mengikuti tes itu. Aku kemudian salim kepada kedua orang tua dan kakakku dan meminta doa restu. Setelah itu, aku pergi
meninggalkan mereka untuk melakukan tes. Sambil berjalan, aku menoleh ke
belakang dan melihat kedua orang tua dan kakakku terus megepalkan tangan yang
memberi arti semangat untukku.
Setelah selesai
melaksanakan tes, aku kembali menemui kedua orang tuaku. Aku tak kuasa menahan
tangis karena pada saat aku melakukan tes, aku mengalami beberapa kesulitan dan
merasa pupus harapan karena materi yang keluar dalam tes itu di luar
prediksiku. Akan tetapi, ibu dan ayahku
tetap memberikan semangat juga banyak motivasi kepadaku.
Satu pekan berlalu…
Ternyata, takdir berkata
lain. Dari beberapa siswa yang mengikuti tes tersebut, hanya satu siswa yang
diterima, dan itu bukanlah aku. Aku kecewa dengan diriku sendiri dan gugurlah
semua harapanku.
Akan tetapi, ternyata
harapan itu akhirnya bisa aku gapai. Ketika ulang tahunku yang ke-16, ibuku
datang untuk menjengukku dan memberiku sebuah surat yang berisi pengumuman bahwa sebenarnya aku telah diterima program Student Culture Exchange sebelum
pendaftaran ditutup. Ternyata, ibuku meminta pihak sekolah untuk menyembunyikan
hal tersebut dan membiarkanku mengikuti beberapa tes dalam program bebas biaya.
Hal itu dimaksudkan agar aku berusaha keras sebelum aku mendapatkan suatu hal
yang menyenangkan yaitu pergi ke luar negeri.
Setelah selesai membaca
surat itu, aku menangis karena tidak percaya akan hal tersebut, semua harapanku telah pupus ketika aku
selesai mengikuti tes program bebas biaya.
Akan tetapi, pada akhirnya aku bisa mengikuti program Student Culture Exchange. Aku teringat
betapa beratnya ketika aku harus mengikuti tes bebas biaya dengan mempersiapkan
mental yang besar karena menghadapi para petinggi di Pondok Pesantren Almatera.
Pada saat aku menangis,
ibuku langsung memelukku dan meminta maaf
karena aku harus bersusah payah mengikuti tes bebas biaya padahal aku
sudah diterima melewati jalur reguler. Begitu pun ayahku, beliau mengatakan bahwa
pada saat beliau bersama ibu dan kakakku datang untuk menjengukku sebenarnya
beliau tidak tega melihat aku menangis karena akan mengikuti tes program bebas
biaya, akan tetapi beliau ingin melihat seberapa besar keinginanku untuk
mengikuti Student Culture Exchange dan
melihat seberapa besar perjuanganku melewati tes itu.
Ketika itu aku mengatakan
kepada kedua orang tuaku bahwa aku sangat bersyukur bisa mengikuti tes bebas
biaya meski sangat berat dan menegangkan. Aku berterima kasih kepada kedua
orang tuaku yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk berjuang dan
berusaha untuk menggapai salah satu impianku. Meski perjuanganku tidak
sebanding dengan uang yang akan orang tuaku bayarkan, akan tetapi setidaknya
ada sedikit rasa lelahku dalam satu impianku yang akan aku gapai
Satu pekan berlalu.
Ketika aku sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas, tiba- tiba
salah satu guru memanggilku dan mengatakan bahwa aku dipanggil ke ruang kepala
sekolah. Aku merasa bingung ketika itu karena jarang sekali kepala sekolah
memanggilku.
Setelah itu aku langsung
meminta izin kepada guru yang sedang mengajar di kelasku dan bergegas menuju ruang kepala sekolah.
Sesampainya di depan ruang kepala sekolah, aku memberanikan diri untuk mengetuk
pintu ruangan. Setelah itu kepala sekolah mempersilakan aku masuk ke dalam
ruangan. Pada mulanya, kepala sekolah mewawancarai aku mengenai program Student Culture Exchange hingga akhirnya
beliau mengatakan bahwa aku akan mendapatkan potongan biaya Student Culture Exchange 90% dari
sekolah sebagai penghargaan atas keberanianku untuk mengikuti tes program bebas
biaya selebihnya juga karena aku adalah
satu-satunya siswi kelas 10 di antara ratusan siswa yang berani mengikuti
program tersebut meskipun sebenarnya aku telah diterima di jalur reguler.
Aku sangat bersyukur
mendengar hal tersebut. Setidaknya aku bisa sedikit meringankan biaya yang akan
dikeluarkan kedua orang tuaku. Meski aku sedikit tidak percaya akan hal itu,
namun kepala sekolah terus menyakinkanku bahwa hal tersebut serius dan aku
berhak mendapatkan itu.
Hingga tiba ketika itu
aku bisa melakukan kegiatan Student
Culture Exchange dan jalan-jalan ke Malaysia, Singapura, juga Thailand
dengan diawali pemberangkatan dari terminal dua Bandar Udara Internasional
Djuanda Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.
Ternyata, jika kita mau
berusaha dan berdoa, maka Allah akan mempermudah jalan kita. Bahkan impian masa
kecilku yang hanya ingin jalan-jalan ke luar negeri Allah justru memberiku lebih: belajar plus jalan-jalan ke
luar negeri.
Aku sangat bersyukur karena
aku bisa mewujudkan salah satu impian masa kecilku pada masa putih abu-abu.