Fara Keysa Aqila
Perayaan lebaran atau Idulfitri selama ini identik dengan
kehangatan silaturahmi, tatap muka langsung, dan momen saling bermaaf-maafan.
Namun, cara orang merayakannya mulai berubah sekarang. Perkembangan teknologi
digital ikut membentuk wajah baru lebaran di tengah masyarakat. Di era
sekarang, silaturahmi tidak harus dilakukan secara fisik. Memanfaatkan platform
seperti WhatsApp, Instagram, sampai Zoom, orang tetap bisa terhubung walaupun
terpisah jarak. Tradisi berkunjung ke rumah keluarga masih ada, tapi mulai dilengkapi
bahkan kadang digantikan oleh video call atau sekadar pesan singkat.
Perubahan ini juga terasa dari cara orang mengucapkan selamat
lebaran. Dulu, kartu ucapan jadi tanda perhatian yang personal. Saat ini,
ucapan lebih sering dikirim dalam bentuk gambar, video, atau template
instan yang dapat dibagikan ke banyak orang sekaligus. Meskipun lebih praktis
dan cepat, ucapan tersebut sering kali terasa kurang personal dan kurang
mendalam karena dapat dibagikan secara massal kepada banyak orang sekaligus.
Hal yang
sama juga terjadi pada tradisi Tunjangan Hari Raya atau yang biasa
disebut THR. Jika dahulu identik dengan amplop berisi uang tunai, kini banyak
yang beralih ke transfer bank atau dompet digital, seperti GoPay dan OVO.
Metode ini memang lebih praktis dan efisien. Namun, bagi sebagian orang,
peralihan ini mengurangi nilai simbolik, seperti momen pemberian secara
langsung dan interaksi hangat antara pemberi dan penerima.
Lalu, muncul pertanyaan apakah semua perubahan ini bikin lebaran
kehilangan maknanya?
Di satu sisi, teknologi justru membantu banyak orang tetap
terhubung, terutama bagi mereka yang berhalangan mudik ke kampung halamannya. Silaturahmi menjadi lebih
fleksibel dan tidak terbatas
oleh jarak. Akan tetapi, di sisi lain banyak yang merasa interaksi digital
tidak bisa sepenuhnya menggantikan kehangatan pertemuan langsung seperti
berjabat tangan, ngobrol santai, atau makan bersama keluarga. Media sosial juga
punya peran besar dalam membentuk cara baru merayakan lebaran, seperti unggahan foto keluarga, pakaian hari raya,
sampai momen kebersamaan menjadi
bagian dari “ritual” baru. Dalam konteks ini, bagi sebagian orang, lebaran tidak hanya menjadi momen spiritual dan
sosial, tetapi juga ruang untuk menampilkan diri di dunia digital.
Pada akhirnya, lebaran sebenarnya tidak kehilangan makna,
melainkan sedang beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tradisinya masih ada,
tetapi bentuk dan cara mengekspresikannya berubah seiring waktu dan gaya hidup
masyarakat. Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi, tantangan
yang muncul saat ini adalah bagaimana tetap menjaga kehangatan, ketulusan, dan
makna silaturahmi di tengah perubahan tersebut.
kerenn!