( Sumber : Fara Keysa
Aqila )
YOGYAKARTA, IKOM RADIO – FISMO Seminar sukses menggelar Seminar Kesehatan Reproduksi Wanita dengan tema "Haid Sehat, Keputihan Aman" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (19/04) ini bertempat di Gedung Siti Walidah, Kampus Terpadu UMY. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen FISMO Seminar dalam meningkatkan kesadaran perempuan terhadap pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, sekaligus membuka ruang diskusi yang selama ini kerap dianggap tabu di masyarakat. Seminar ini menghadirkan dr. Andhyta Ratih Wulandari, Sp.OG., seorangdokter spesialis obstetri dan ginekologi, sebagai pembicara utama.
Salah satu materi utama yang disampaikan oleh dr. Andhyta dalam seminar ini adalah cara mengenali siklus haid yang sehat. Secara umum, siklus haid normal berlangsung rata-rata 28 hari dengan rentang antara 21 hingga 35 hari, disertai kram ringan yang masih dalam batas wajar. Warna darah yang sehat ditandai dengan merah segar pada awal siklus dan berangsur berubah menjadi kecoklatan menjelang akhir haid. Namun, terdapat beberapa kondisi yang perlu diwaspadai sebagai tanda bahaya, diantaranya tidak mengalami haid selama minimal tiga bulan berturut-turut serta munculnya pendarahan di luar jadwal haid yang biasa. Kondisi-kondisi tersebut sebaiknya segera dikonsultasikan kepada tenaga medis.
Seminar ini juga membahas secara mendalam tentang keputihan, yang merupakan salah satu kondisi yang paling sering dialami perempuan namun kerap disalahpahami. Keputihan yang tidak normal dapat dikenali melalui beberapa ciri, yaitu warna yang kuning pekat, hijau, atau keabu-abuan; bau amis yang menyengat; tekstur menggumpal menyerupai keju basi; serta disertai rasa gatal dan kemerahan pada area kewanitaan.
Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh ketidakseimbangan bakteri alami dalam organ intim, infeksi menular, maupun pertumbuhan jamur yang berlebihan. Dalam hal ini, dr. Andhyta menegaskan sebuah poin penting yang perlu dipahami oleh seluruh peserta, bahwa "obat jamur tidak akan mempan untuk infeksi bakteri. Pengobatan yang salah justru memperparah kondisi dan membunuh bakteri baik." Oleh karena itu, diagnosis yang tepat dari tenaga medis sangat diperlukan sebelum memulai pengobatan.
Selain pemaparan materi, dr. Andhyta juga memberikan panduan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa hal yang dianjurkan antara lain menggunakan pakaian dalam berbahan katun agar sirkulasi udara tetap terjaga, membersihkan area intim dengan arah dari depan ke belakang untuk mencegah perpindahan bakteri, serta memastikan area tersebut tetap kering setelah buang air kecil maupun buang air besar. Selain itu, peserta juga diingatkan untuk rutin mengganti pembalut setiap tiga hingga empat jam sekali demi mencegah pertumbuhan bakteri.
Di sisi lain, terdapat beberapa kebiasaan yang justru perlu dihindari karena dapat mengganggu keseimbangan flora alami organ intim, di antaranya penggunaan sabun pewangi pada area kewanitaan, mengenakan pakaian yang terlalu ketat, penggunaan pantyliner setiap hari secara berlebihan, serta membiarkan pakaian dalam dalam kondisi lembap atau basah dalam waktu lama.
Dr.
Andhyta turut menekankan bahwa kesehatan reproduksi tidak dapat dipisahkan dari
kualitas gaya hidup secara keseluruhan. Pemenuhan nutrisi yang baik, tidur yang
cukup, kemampuan mengelola stres,
serta kebiasaan berolahraga secara rutin merupakan
faktor-faktor penting yang berkontribusi langsung terhadap kesehatan
organ kewanitaan.
Sebagai penutup, dr. Andhyta menyampaikan tiga aturan emas dalam menjaga kesehatan reproduksi: pertama, kenali pola normalmu sendiri karena setiap perempuan memiliki karakteristik yang berbeda; kedua, pahami bahwa vagina memiliki mekanisme alami untuk membersihkan dirinya sendiri sehingga tidak memerlukan produk pembersih berlebihan; dan ketiga, berhentilah merasa tabu untuk membicarakan kesehatan reproduksi, karena keterbukaan informasi adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan. Pesan itulah yang ingin dr. Andhyta titipkan kepada seluruh peserta yang hadir. "Kenali kesehatanmu, sayangi reproduksimu," ujarnya dengan penuh keyakinan sebuah kalimat sederhana namun sarat makna yang diharapkan dapat terus terngiang dan menjadi pengingat bagi setiap perempuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Melalui penyelenggaraan seminar ini, FISMO Seminar berharap
dapat mendorong lebih banyak perempuan untuk lebih sadar,
berani, dan proaktif dalam menjaga kesehatan reproduksinya demi kualitas hidup
yang lebih baik.