MaN4MWBcLWt6MGFbMqR6MGV8MTcsynIkynwdxn1c
Aku tidak bisa berhenti berharap dan Aku sudah berhenti meminta maaf untuk itu

Aku tidak bisa berhenti berharap dan Aku sudah berhenti meminta maaf untuk itu



Karya: Kevin Chandra Wijaya

Aku tidak bisa berhenti berharap dan Aku sudah berhenti meminta maaf untuk itu

Di dunia ini, aku rasa terdapat hal yang tidak pernah benar-benar diajarkan kepada kita, bahwa ada orang-orang yang dilahirkan dengan hati yang terlalu terbuka. Bukan karena bodoh. Bukan karena belum cukup disakiti. Tapi karena memang begitulah cara mereka ada di dunia ini. Teguh, serius dan tanpa setengah-setengah.

Akulah salah satu dari mereka.

Aku sudah pernah ditertawakan karenanya. Bukan dengan suara keras, tapi dengan cara yang lebih pelan seakan-akan tatapan mereka semua bilang "kamu itu bodoh" atau kalimat yang terdengar seperti nasihat padahal isinya penghakiman "jangan terlalu berharap, nanti kecewa."

Aku bingung, mengapa mereka seolah-olah menganggap harapan adalah sesuatu yang memalukan?. Seolah-olah mencintai dengan sungguh adalah tanda kelemahan. Sungguh tidak seperti yang kupikirkan saat ini.

Jujur dariku bahwa aku pernah mempercayai itu. Aku pernah mencoba menjadi lebih dingin, lebih hati-hati, lebih pandai menjaga jarak. Aku bahkan belajar cara membalas pesan dengan lambat supaya tidak terlihat terlalu antusias. Akupun belajar cara menyembunyikan betapa besarnya rasa peduli yang kupegang.

Dan akhirnya aku lelah.

Bukan lelah karena berharap, tapi lelah berpura-pura tidak berharap.

Mungkin banyak yang sepertiku hingga sepaham denganku. Kami bukan tidak tahu risikonya. Kami tahu. Kami sudah merasakannya malam-malam yang panjang, pesan yang tidak dibalas, tangisan yang berkali-kali berselancar di kedua pipi hingga nama yang terus muncul di kepala meski sudah berulang kali diperintahkan untuk pergi. Kami juga tahu persis bagaimana rasanya ketika harapan tidak berujung pada apa yang kita bayangkan.

Tapi kami bertahan. Bukan karena tidak belajar dari pengalaman, tapi karena kami percaya bahwa ada sesuatu yang lebih berharga dari rasa aman. Bahwa hidup yang dijaga terlalu ketat dari kemungkinan rasa sakit, adalah hidup yang juga terjaga dari kemungkinan sesuatu yang indah.

Kami memilih untuk tetap terbuka. Dan itu bukan kenaifan, itu keberanian dengan cara yang berbeda.

Ada malam-malam di mana aku bertanya kepada diriku sendiri, “apakah memang seharusnya aku berbeda?”. Apakah lebih mudah menjadi seseorang yang tidak terlalu merasakan, tidak terlalu mengharapkan, tidak terlalu peduli?.

Mungkin Benar. Mungkin lebih mudah.

Tapi di saat yang sama, aku menyadari bahwa versi diriku yang lebih dingin itu bukan benar-benar aku. Ia hanya diriku yang sedang bersembunyi.

Dan akupun sudah terlalu lelah untuk terus bersembunyi.

Aku tidak bisa berhenti berharap. Bukan karena tidak ku mencoba. Tapi karena setiap kali aku mencoba, ada bagian dari diriku yang menolak. Yang masih percaya bahwa seseorang di luar sana juga sedang mencari sesuatu yang nyata. Yang masih yakin bahwa kedalaman itu bukan beban, melainkan hadiah untuk orang yang tepat.

Mungkin aku akan kecewa lagi. Mungkin harapanku tidak selalu berujung seperti yang kuinginkan. Tapi aku memilih untuk hidup dengan kemungkinan itu, daripada menutup diri dari kemungkinan yang lainnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak meminta maaf untuk itu.

Tidak kepada siapa pun. Termasuk kepada diriku sendiri.

 

 

 

Komentar

Request Dimari Yuk!!!