MaN4MWBcLWt6MGFbMqR6MGV8MTcsynIkynwdxn1c
Persahabatan Dalam Sebuah Ikatan

Persahabatan Dalam Sebuah Ikatan


   Karya: Salwa Rizqy Oktavia          

Persahabatan Dalam Sebuah Ikatan

        Namaku Salwa. Aku adalah seorang santriwati SMP di Pondok Pesantren Hussein Mutahar kota Yogyakarta. Overthinking dan baperan, begitulah label yang diberikan oleh para sahabat dekatku, salah satunya adalah Eva. Meski sebutan itu terdengar kurang mengenakkan dan sedikit menyakitkan, namun bagiku, itu adalah sebuah tanda perhatian yang diberikan. Bukankah tak mungkin mereka memberi label itu jika tak mengenalku dengan baik?

Di sisi lain, berbeda dengan Eva dan sahabat dekatku, sebagian besar santri yang hanya mengenalku sebagai teman biasa memandangku dengan cara yang berbeda. Pemberani, percaya diri, dan mudah bergaul adalah sebutan yang paling sering aku dengar. Mereka juga memandang bahwa aku adalah anak yang ambis, terlebih lagi setelah aku terpilih menjadi bagian dari Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) SMP Hussein Mutahar.

PR IPM adalah sebuah organisasi yang umum dijumpai di sekolah Muhammadiyah. Organisasi ini dipimpin dan digerakkan oleh para siswa. Untuk menjadi PR IPM di sekolahku, ada beberapa tahapan yang harus dilalui, salah satunya adalah dengan mengikuti Latihan Dasar Pimpinan Ranting (LDPR). Meski demikian, untuk mendapatkan undangan LDPR bukanlah hal yang mudah. Tidak semua santri bisa mendapatkannya. Peserta LDPR dipilih berdasarkan rekomendasi para ustaz dan ustazah dengan mempertimbangkan kriteria santri berprestasi dan tidak pernah melakukan pelanggaran. 

Aku cukup beruntung bisa mendapatkan undangan itu pada saat duduk di kelas delapan. Itu artinya, aku memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari PR IPM SMP Hussein Mutahar sebab undangan itu menjadi syarat utama agar bisa mengikuti Musyran, sebuah permusyawaratan penting yang menjadi penentu nasib dan harapanku di organisasi ini setahun ke depan. 

Tiga bulan  kemudian, pada saat Musyran tahun 2020 dilaksanakan, aku ditetapkan menjadi ketua bidang Perkaderan dan Eva menjadi ketua bidang Kajian Dakwah Islam. Bagiku, itu merupakan hal yang sangat luar biasa sebab hanya kami berdualah siswi kelas delapan yang terpilih menjadi ketua bidang. Selain aku dan Eva, ketua bidang terpilih lainnya berasal dari siswi kelas sembilan. Barangkali, dari situlah anggapan bahwa aku adalah siswi yang aktif dan ambisius bermula. Sebab aku menjadi salah satu di antara dua siswi kelas delapan yang menjabat sebagai ketua bidang di IPM.

Meski demikian, Eva sebagai sahabat terdekatku paham betul dengan karakterku yang suka overthinking dan mudah terbawa perasaan. Oleh karena itu, tak jarang dia memberikan support kepadaku. Begitu pula dengan kedua orang tuaku. Mereka akan selalu mendukung keputusanku untuk aktif di organisasi IPM.

Tiga bulan sejak aku menjabat sebagai ketua bidang, pada suatu hari ada pemberitahuan bahwa seluruh santri Pondok Pesantren Hussein Mutahar harus berkumpul di masjid karena akan ada pengumuman. Aku bersama teman-temanku pun bergegas. Tak lama setelah kami berkumpul, datanglah salah satu ustazah yang akan menyampaikan pengumuman. Dalam pengumuman itu, beliau memberitahukan bahwa Kemendikbud akan mengadakan Lomba Cerdas Cermat Museum (LCCM) 2021. Lomba itu akan dilaksanakan dalam tiga bulan yang akan datang. Dalam lomba itu, Pondok Pesantren Hussein Mutahar akan mengirimkan enam kelompok, yakni tiga kelompok putri dan tiga kelompok putra. Kelompok putri terdiri atas tiga siswi SMP, tiga siswi SMA dan tiga siswi SMK. Begitu pun dengan kelompok putra.

Guna memilih peserta perwakilan untuk berkompetisi dalam lomba tersebut, maka Pondok Pesantren Hussein Mutahar akan menyelenggarakan seleksi internal dua pekan mendatang.  Peserta seleksi tersebut adalah perwakilan masing-masing kelas yang berjumlah dua anak dan dua siswi dari seluruh organisasi yang ada di SMP, SMA, dan SMK Hussein Mutahar. 

Tiga hari setelah pengumuman, Eva memberitahuku bahwa setelah pulang sekolah akan diadakan rapat PR IPM untuk menindaklanjuti pemberitahuan terkait perwakilan seleksi tersebut.

Rapat dibuka oleh Kak Faesya selaku ketua umum. Dalam pembukaan itu, Kak Faesya mengatakan bahwa peserta yang akan diikutkan tes seleksi adalah Ipmawati (anggota IPM perempuan) dari kelas delapan sebab dalam waktu dekat siswi kelas sembilan akan mengikuti ujian sekolah. Rapat itu kemudian dilanjutkan dengan perbincangan bersama hingga akhirnya terpilihlah aku dan Eva untuk mengikuti tes seleksi itu. Pada awalnya, aku menolak karena merasa tidak mampu, akan tetapi, semua orang meyakinkanku bahwa aku pasti bisa mengikutinya. Tak bisa mengelak, pada akhirnya aku pun menerima keputusan tersebut meski merasa kurang percaya diri.

Setelah penunjukan itu, aku dan Eva pun mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti tes seleksi dengan mencari buku-buku di perpustakaan, belajar bersama, dan berdiskusi bersama. Kegiatan belajar bersama kami dilakukan setelah pulang sekolah hingga malam hari. Bahkan, tidak jarang kami hanya tidur dua sampai tiga jam mengingat persiapan ini hanya bisa dilakukan dalam waktu dua pekan.

Aku dan Eva juga tidak lupa memberitahu orang tua kami melalui telepon pesantren untuk meminta doa restu agar bisa lolos seleksi dan menjadi peserta Lomba Cerdas Cermat mewakili Pondok Pesantren Hussein Mutahar.

Tak terasa, satu pekan telah kami lalui dengan belajar dan melakukan berbagai persiapan untuk seleksi. Akan tetapi, tiba-tiba saja saat aku sedang jajan di kantin, dadaku terasa sakit. Nafasku juga mulai terasa tidak normal bahkan lama kelamaan pandanganku mulai kabur. Setelah itu, aku hanya mendengar teriakan para santriwati yang terdengar tidak jelas. Kejadian yang sudah sangat sering menimpaku pada saat duduk di bangku sekolah dasar pun kali ini kembali terulang.

Mataku mulai terbuka setelah dua jam aku pingsan, orang pertama yang aku temukan adalah Eva dengan raut wajah khawatir dan terlihat cemas. 

“Eva, kamu kenapa?”

“Salwa, kamu udah bangun, ya? Aku yang harusnya tanya, kamu kenapa kok bisa sampai pingsan gini? Asma kamu kambuh ya, Sal?”

“Aku juga enggak tau, Ev. Tiba-tiba tadi dadaku sakit banget terus pingsan”

“Maaf ya, Salwa. Semua ini pasti gara-gara aku. Aku selalu mengajak kamu belajar sampai lupa tidur dan lupa makan. Kamu pasti jadi kepikiran maaf ya, Salwa”

Enggak, Ev. Aku memang lagi agak capek aja”

Sehari setelah kejadian itu, aku dan Eva tetap menjalankan belajar bersama seperti biasanya. Hanya saja, di pukul sembilan malam, aku dan Eva pasti sudah mengakhirinya. Selain itu, Eva selalu melarang aku belajar lebih dari jam sembilan malam. Meski demikian, aku dan Eva menggantinya dengan menambah jam belajar kami di sore hari.

Lima hari menuju tes seleksi tersebut, aku dan Eva masih gigih belajar hingga pada akhirnya, di suatu sarapan pagi, dadaku kembali terasa sakit. Awalnya, aku menahannya karena menganggap ini hanya nyeri biasa. Akan tetapi, tiba-tiba pandanganku kembali buram dan aku pingsan untuk kedua kalinya. Aku tidak sadarkan diri, bahkan sampai dua jam pun aku belum sadarkan diri. Pada saat aku bangun, aku melihat sudah ada Ibu di sampingku. “Nak, kamu kenapa?”

“Ibu, aku enggak apa-apa, kok”

“Ibu dapat pemberitahuan dari ustazah kalau kamu sudah pingsan dua kali dalam pekan ini, asma kamu juga kambuh, kamu mikirin apa?” Ucap Ibu.

“Aku enggak apa-apa, Bu. Aku cuma kecapaian saja”

Setelah perbincangan itu, pada akhirnya Ibu memutuskan untuk membawaku pulang terlebih dahulu agar dapat memeriksakan aku ke dokter. Pada awalnya, aku menolak karena tes seleksi itu akan dilaksanakan empat hari lagi. Akan tetapi, Ibu dan Eva  terus menyakinkanku bahwa di waktu empat hari tersebut, aku pasti sudah kembali ke pesantren dan mengikuti tes seleksi. Akhirnya, aku pun luluh dan mengikuti saran mereka. Aku mulai bersiap dan Eva membantu membereskan barang-barang yang akan aku bawa. 

Aku pulang ke kota kelahiranku, Wonosobo. Baru saja aku masuk ke rumah dan bertemu dengan saudara-saudaraku, tiba-tiba Ibu berseru,  “Adik, ternyata dari tadi ustazah menelepon. Akan tetapi, handphone Ibu mati.  Ada apa, ya?”

“Kenapa ya, Bu? Coba ibu telepon ustazah kembali” 

Dari seberang, terdengar ustazah mengatakan bahwa yang menelpon Ibu adalah Eva. Dia meminjam handphone ustazah, akan tetapi karena handphone Ibu tidak aktif, pada akhirnya Eva menitipkan surat kepada ustazah yang kemudian aku terima dalam bentuk foto. 

Salwa, maaf. 

Mungkin sewaktu kamu membaca surat ini, aku udah ninggalin kamu ikut tes seleksi itu. Tes seleksi Cerdas Cermat ternyata diajukan besok, Sal. Aku udah berusaha menolak, tapi Kak Faesya bilang kalau aku enggak bisa mengundurkan diri. Aku enggak boleh egois, jadi aku benar-benar minta maaf. Aku aangaat ingin mengundurkan diri, tapi teman-teman Ipm pasti akan kecewa, Kak Faesya sama sekali tak mengizinkan aku mundur. Aku benar-benar bingung, Sal.

Setelah membaca surat itu, aku langsung menyampaikan pada Ibu “Aku akan kembali ke pesantren besok, aku tidak jadi periksa”

“Ada apa, Salwa?. Kenapa tidak jadi periksa?”  Tanya Ibu sedikit cemas.

Aku pun menjelaskan semuanya kepada Ibu dan mendapat izinnya meski pada awalnya beliau menolak. Akan tetapi, setelah aku menyampaikan bahwa aku harus mewakili tes ini demi PR IPM SMP, sekaligus merasa kasihan apabila  Eva harus menjalani tes sendirian sebab tidak ada orang lain yang melakukan persiapan selain kami berdua.

Keesokan harinya, dengan sedikit rasa cemas, aku masuk ke dalam mobil untuk kembali ke pesantren. Aku sangat khwatir jikalau tes itu sudah dimulai. Aku tidak mau mengecewakan teman-temanku. Bagaimanapun, aku harus bisa ikut seleksi itu.

Sampai di pesantren, aku bergegas mencari Eva. Dari kejauhan, aku melihatnya sedang menangis dipelukan Kak Faesya. Dengan sedikit berteriak, aku memanggil nama mereka “Eva, Kak Faesya!” Kulihat mereka menoleh dengan tatapan terkejut dan kemudian berlari ke arahku. Eva langsung memelukku, “Salwa, kamu kok bisa di sini. Kamu enggak apa-apa? Seharusnya kamu istirahat, Salwa” Kak Faesya turut menambahkan, “Salwa, kamu kenapa ke sini? Kamu harusnya istirahat, kamu enggak usah memaksakan diri”

“Aku enggak apa-apa kok, aku udah sembuh”

“Salwa, aku benar-benar minta maaf. Aku enggak ada niatan untuk ninggalin kamu di tes ini” Ucap Eva dengan ekspresi menyesalnya.

“ Iya, Salwa. Eva dari tadi enggak mau masuk ke ruangan tes padahal tesnya akan dimulai setengah jam lagi. Dari kemarin dia juga menolak” Ucap kak Faesya.

“Iya enggak apa-apa, aku paham kok sama Eva. Yaudah yuk kamu tes sama aku”

“Yang benar Sal, kamu kan sakit” Ucap Eva.

“Iya Sal, enggak apa-apa IPM SMP diwakilkan Eva saja, kamu enggak usah memaksakan diri” Ucap kak Faesya.

“Dari awal, teman-teman udah percaya sama aku, masa aku mau mengecewakan mereka, semua mewakilkan dua orang kan, masa kita satu orang doang?” Ucapku sambil tersenyum.

Kami bertiga berpelukan. Setelah itu, aku dan Eva menuju ruang tes. Tes dilakukan secara individu dengan jumlah soal sebanyak 100 dan dalam waktu dua jam. 

Setelah selesai mengerjakan soal, kemudian aku keluar dari ruangan dan mendapati Eva yang sudah selesai terlebih dahulu. 

“Gimana Sal?” Tanya Eva.

“Ya gitu, haha. Kamu gimana?” 

“Ya gitu, juga” Jawab Eva sambil tertawa.

Di saat yang bersamaan, datanglah kak Faesya dan bertanya, “Salwa, Eva, gimana ujiannya?”

“Ya gitu Kak. Maaf kalau hasil tesnya jelek” Ucap aku.

“Santai aja aku tau kok kalian berdua sudah berusaha sekeras mungkin”

Tiga hari setelah tes, dadaku kembali terasa sakit. Aku pingsan dan tidak sadarkan diri bahkan lebih lama dari kejadian terakhir. Pada saat aku bangun, sudah terpasang selang oksigen di hidungku. Aku mendapati sosok ayah dan ibu berdiri di sampingku. Ternyata, aku dilarikan ke rumah sakit  dekat dengan pondok pesantren.

“Nak, kamu istirahat dulu” Ucap Ibu.

“Iya, Bu” 

Pada hari kedua aku dirawat, ibu memberitahu bahwa aku dan Eva lolos seleksi lomba. Aku merasa bahagia karena akhirnya PR IPM SMP bisa ikut mewakili Pondok Pesantren Hussein Mutahar dalam lomba Cerdas Cermat itu. Akan tetap, keadaanku yang seperti itu membuatku berpikir apakah aku sanggup mengikutinya atau tidak. Ibu juga menyarankanku untuk berpikir ulang terkait hal itu.

Pada hari ketiga aku terbaring di rumah sakit Taruna Negeri, aku masih terus berpikir bahwa aku harus bisa mewakili IPM SMP dalam lomba Cerdas Cermat itu. Di saat yang bersamaan, Ibu memberitahuku bahwa dari pihak SMP memberikan batas waktu dua hari. Jika dalam kurun waktu itu aku belum bisa kembali ke pesantren, peserta Cerdas Cermat akan digantikan siswi lain sebab dalam waktu dua pekan, akan diadakan bimbingan langsung oleh ustaz dan ustazah kepada seluruh peserta perwakilan. Pihak SMP juga tidak memaksaku dan berharap bahwa aku bisa memberikan keputusan yang terbaik. Akhirnya, aku pun memutuskan menelepon ustazah dan meminta untuk berbicara dengan Eva. Dari telepon kudengar suaranya, “Sal, kamu sehat-sehat, ya. Kamu enggak usah kepikiran”

“Iya, Ev. Akan tetapi, kayaknya aku enggak bisa ikut lomba itu, mengingat keadaanku yang seperti ini” 

“Sal, pokoknya kamu tenang saja, kalau kamu enggak bisa ikut lomba itu aku juga akan menemani kamu. Aku udah bilang ke Kak Faesya. Dalam waktu dua pekan ini, siswa-siswi yang ikut lomba akan dibimbing langsung oleh ustaz dan ustazah, Sal” Ucap Eva.

“Gini Ev, setelah aku diskusikan sama orang tuaku, aku memutuskan untuk enggak ikut lomba itu. Tapi, kamu harus tetap ikut, kamu enggak boleh egois, kasihan teman-teman yang sudah percaya sama kamu”

“Sal, dari awal kita sudah berjuang bersama. Mulai dari cari buku-buku, diskusi, belajar, bahkan saat melakukan seleksi. Aku enggak mungkin ninggalin kamu” Ucap Eva.

“Eva kamu enggak boleh berpikir seperti itu, sama saja kamu egois. Kita memang dekat, kita memang sahabat, tapi kamu juga harus ingat teman-teman yang lain. Kamu harus ingat  nama PR IPM SMP kita”

“Gimana Sal, aku enggak tega sama kamu” Ucap Eva.

“Aku enggak papa Ev, kalau aku sehat aku pasti ikut, tapi aku enggak mungkin ikut dengan keadaan seperti ini. Pokoknya aku akan kecewa kalau kamu mengundurkan diri hanya gara-gara aku”

Akhirnya, setelah perbincangan yang lama, Eva pun mengikuti saranku untuk ikut Cerdas Cermat itu meski aku sudah mengundurkan diri.

Lomba dilaksanan tepat dua pekan aku dirawat. Aku masih terbaring di rumah sakit yang sama, hatiku berdebar sepanjang hari dan terus menantikan kabar dari Eva. Tepat pukul 15.00, ada panggilan video dari ustazahku. Dari layar itu, aku menyaksikan Eva yang sedang berjuang di babak terakhir. Aku bangga melihat Eva bisa berjuang mewakili PR IPM SMP dan juga Pondok Pesantren Hussein Mutahar. Pada akhirnya, kelompok Eva keluar menjadi pemenang pertama Lomba Cerdas Cermat Museum (LCCM) 2021. Aku bangga dan meneteskan air mata melihat Eva bisa memenangkan lomba itu. Tak lama setelah itu melalui handphone ustaz, Eva meneleponku dan menangis. Aku mengucapkan ucapan selamat kepadanya. 

Tiga hari setelah kemenangan Eva, Ibu memberitahu bahwa ada orang yang ingin bertemu denganku. Siapa? 

Tiba-tiba datanglah Eva, Kak Faesya dan seluruh teman-teman PR IPM SMP Hussein Mutahar. Mereka menjengukku. Aku meneteskan air mata melihat kedatangan mereka. Eva langsung memelukku dan membisikkan, “Salwa ini buat kamu” 

Eva memberikan sebuah sertifikat lomba Cerdas Cermat kepadaku.

“Apa ini? ini kamu simpan aja, Ev”

“Ini buat kamu, aku sudah punya fotokopiannya”

Aku kembali memeluk Eva dan meneteskan air mata. Aku teringat betapa berat perjuangan kami mulai dari mencari buku-buku, diskusi dan belajar bersama hingga larut malam. Sampai akhirnya, kami bisa lolos seleksi dan dapat mengikuti lomba meski aku terpaksa harus mengundurkan diri. Teman-teman yang lain pun ikut memelukku, “Aku benar-benar minta maaf, aku terpaksa harus mengundurkan diri, aku tau kalian semua kecewa denganku”

“Kita paham Salwa, aku tahu perjuangan kamu mulai dari awal sampai ketika kamu dilarikan ke rumah sakit. Aku tahu sebenarnya kamu enggak mau mengundurkan diri demi IPM kita, tapi kondisi kamu yang seperti ini sangat tidak memungkinkan buat kamu ikut lomba Cerdas Cermat itu” Ucap Kak Faesya.

“Terima kasih, teman-teman. Kalian adalah yang terbaik”

“Iya, Salwa” Ucap teman-temanku.

“Kamu juga hebat banget. Kamu udah mau berjuang demi IPM kita. Terima kasih kembali Salwa” Ucap Kak Faesya.

Aku sangat bahagia dikelilingi oleh teman-teman sebaik dan sepengertian mereka. Dari situlah aku benar-benar memahami arti persahabatan dan pertemanan dalam sebuah Ikatan, yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah. 


Komentar

Request Dimari Yuk!!!