Sering kita
jumpai berbagai bentuk ajakan tentang mengurangi sampah plastik. Seperti yang
kita semua tahu sampah plastik merupakan sampah sekali pakai yang sulit terurai
sehingga memberikan banyak efek negatif pada kesehatan diri sendiri dan alam
sekitar. Berdasarkan berbagai proyeksi, sebagian besar TPA (Tempat Pembuangan
Akhir) di Indonesia diperkirakan overcapacity pada tahun 2028, bahkan
sekarang sudah ada beberapa TPA yang overcapacity. Pada tahun 2025 Sistem
Informasi Pengelola Sampah Nasional (SIPSN) mencatat ada 31 juta ton timbunan
sampah nasional tahunan, dan 20,52% -nya adalah sampah plastik. Dari timbunan
sampah nasional yang tercatat masih ada 75% sampah yang belum terkelola akibat
sulitnya penguraian dari sampah tersebut.
Sebenarnya,
kenapa ya sampah plastik diciptakan? Jika kita tarik mundur, plastik diciptakan
pada tahun 1869 oleh John Wesley Hyatt untuk pengganti gading dalam pembuatan
bola biliar. Melihat potensi yang tinggi, plastik akhirnya digunakan untuk
mencegah kekhawatiran pada penggunaan kantong belanja kertas yang dapat
menghabisi pohon. Menarik ya IKOMERS, ternyata hal yang membuat kita kewalahan
sebenarnya adalah solusi paling efektif untuk menyelesaikan masalah, tapi
kenapa bagaimana bisa gitu ya? Memangnya John tidak terpikir efek jangka
panjangnya?
Faktanya
IKOMERS, plastik yang ringan, mudah dilipat, elastis dan tahan lama supaya bisa
digunakan berkali-kali, bukan sekali pakai seperti yang sering dilakukan zaman
sekarang. Jadi sebenarnya yang salah plastiknya atau pemaknaannya ya? Itu
kembali pada perspektif masing-masing ya.
IKOMERS
mengesampingkan pemaknaan yang berbeda, di zaman sekarang plastik sudah
sangat mengkhawatirkan dan kita sudah punya banyak alternatif lain untuk
menerapkan zero-waste demi keberlangsungan hidup bumi kita. Kantong
belanja plastik dan kertas bisa diganti dengan totebag kain dan parasut, kemasan
botol dan wadah plastik bisa diganti dengan tumbler dan wadah bekal.
Yuk selamatkan bumi kita demi kehidupan lebih baik tanpa menyakiti makhluk
lain.

🤩🤩🤩
good