MaN4MWBcLWt6MGFbMqR6MGV8MTcsynIkynwdxn1c
Fakta Menarik untuk Kamu si Pencinta Matcha

Fakta Menarik untuk Kamu si Pencinta Matcha

 

(Sumber : Tokidoki Matcha)

Oleh : Andini Larasati Hanifah

Bagi ikomers yang gemar menyeruput matcha latte atau berburu dessert serba hijau, mungkin ikomers sudah tidak asing dengan rasa earthy dan creamy yang khas dari bubuk teh ini. Namun, tahukah ikomers bahwa matcha sebenarnya memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada sekadar tren minuman kekinian? Meskipun kini sangat identik dengan budaya Jepang, akar sejarah matcha sebenarnya bermula dari Dinasti Tang di Tiongkok. Pada abad ke-12, metode penyajian teh bubuk ini dibawa ke Jepang oleh para biksu Zen, di mana ia kemudian disempurnakan menjadi bagian integral dari upacara minum teh tradisional Jepang dan meditasi.

Salah satu rahasia utama yang membuat matcha berbeda dari teh hijau biasa terletak pada proses penanamannya yang unik. Sekitar 20 hingga 30 hari sebelum dipanen, tanaman teh untuk matcha akan ditutup rapat dari sinar matahari langsung menggunakan jaring khusus. Proses shading atau penaungan ini memaksa tanaman untuk memproduksi lebih banyak klorofil dan asam amino, yang tidak hanya menghasilkan warna hijau cerah yang memikat, tetapi juga menciptakan rasa enak yang manis dan lembut, serta menghilangkan rasa pahit yang berlebihan.

Dari segi nutrisi, mengonsumsi matcha memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan menyeduh teh hijau biasa. Ketika ikomers meminum teh celup, ikomers hanya mendapatkan sari patinya saja karena daunnya dibuang. Sebaliknya, saat menikmati matcha, ikomers meminum keseluruhan daun teh yang telah ditumbuk halus menjadi bubuk mikroskopis. Hal ini berarti ikomers mendapatkan 100% nutrisi yang terkandung di dalamnya, termasuk antioksidan yang sangat tinggi. Bahkan, satu cangkir matcha diperkirakan memiliki kandungan antioksidan setara dengan 10 cangkir teh hijau seduh biasa.

Bagi ikomers yang mencari alternatif kopi, matcha menawarkan "kafein bersih" yang unik berkat kandungan zat bernama L-Theanine. Jika kopi sering kali memberikan lonjakan energi instan yang diikuti dengan rasa gelisah dan penurunan energi yang drastis, matcha bekerja dengan cara berbeda. L-Theanine memberikan efek relaksasi yang menyeimbangkan stimulasi kafein, menciptakan kondisi "waspada namun tenang" (calm alertness). Inilah alasan mengapa para Samurai dan biksu zaman dahulu meminumnya sebelum bermeditasi atau bertempur untuk menjaga fokus yang stabil.

Penting juga bagi para pencinta matcha untuk mengetahui bahwa tidak semua bubuk hijau itu diciptakan sama matcha memiliki tingkatan kualitas atau grade. Kualitas tertinggi disebut Ceremonial Grade, yang memiliki warna hijau neon cerah, tekstur sangat halus, dan rasa manis alami yang cocok diminum murni hanya dengan air panas. Di sisi lain, ada Culinary Grade yang warnanya sedikit lebih kusam dan rasanya lebih tajam atau pahit, yang memang diperuntukkan sebagai bahan campuran kue, smoothies, atau es krim agar rasa tehnya tidak kalah oleh bahan lain seperti gula dan susu.

Kesimpulannya, matcha bukan sekadar minuman yang fotogenik untuk media sosial, melainkan sebuah superfood dengan proses pembuatan yang penuh dedikasi. Mulai dari metode penanaman di bawah naungan hingga proses penggilingan menggunakan batu granit yang lambat untuk menjaga nutrisinya, setiap gram matcha adalah hasil dari kerajinan tangan yang teliti. Jadi, setiap kali ikomers menikmati secangkir matcha hangat atau sepotong matcha cake, ingatlah bahwa ikomers sedang menikmati warisan budaya berusia ratusan tahun yang menyehatkan tubuh sekaligus menenangkan pikiran.

1 komentar

  1. Anonim
    Anonim 31 Januari, 2026 23:47

    wow! aku pecinta matcha baru tau ini

Request Dimari Yuk!!!