Langit sore menyisir rambut kota dengan sisa warna merah
Menyentuh lembut tajamnya menara-menara kaca yang lengah
Di bawahnya, nadi metropolis berdenyut kencang dengan susah payah
Antara deru mesin dan aspal hitam yang tak pernah lelah
Menara-menara ini seperti saksi bisu yang membeku
Mencakar langit, mengukur jarak antara ambisi dan debu
Sore ini, beton-beton itu tampak sedikit linu
Tunduk pada gradasi jingga yang merambat pelan dan syahdu
Jalan raya, barisan lampu, adalah doa yang mengantre
Bus-bus melaju, mengangkut lelah yang makin sore
Ribuan pasang mata menatap arloji, menghitung detik setiap episode
Mencari kedamaian di balik kaca jendela yang mulai berembun sore
Ada haus yang tertahan di balik kerah kemeja yang rapi
Ada lapar yang disembunyikan di balik gedung tinggi nan sepi
Di kota ini, Bulan suci bukan sekadar menahan diri
Ia adalah tentang menemukan "rumah" di tengah bisingnya hari
Trotoar menjadi saksi langkah-langkah kaki yang melambat
Walaupun pada nyatanya dunia berputar begitu cepat
Setiap bunyi yang bersahutan adalah rindu yang berkarat
Menuju meja makan sederhana, tempat syukur akan mendarat
Di sepertiga senja ini, keangkuhan kota runtuh perlahan
Tersungkur di hadapan ketenangan yang tak butuh kemewahan
Sujud gedung-gedung pada langit beri ketaatan
Saat dunia yang megah, akhirnya menyerah pada panggilan Tuhan

Ituloh vin
tulisannya bagus!
wiw