Oleh : Andini Larasati Hanifah
Membaca Satine itu rasanya seperti sedang diajak jalan-jalan menyusuri hiruk-pikuk kota besar tapi tetap bisa merasakan kesunyian di dalam kepala karakternya. Ika Natassa memang jagonya kalau urusan bikin pembaca merasa "dekat" dengan kehidupan kaum urban yang tampak mapan di luar, tapi sebenarnya punya pergulatan batin yang rumit. Di buku ini, kita nggak cuma disuguhi narasi yang mengalir, tapi juga gaya bahasa yang khas perpaduan antara diksi yang cantik dengan sentuhan realistis bikin setiap babnya terasa seperti potongan film yang sedang berputar di benak kita.
Tokoh Satine sendiri digambarkan dengan sangat manusiawi. Dia bukan karakter sempurna yang tanpa cela; justru kegamangan dan caranya memproses perasaan adalah magnet utama cerita ini. Ika berhasil memotret bagaimana memori masa lalu bisa menjadi jangkar sekaligus beban bagi seseorang untuk melangkah maju. Interaksi antarkarakternya pun nggak terasa dipaksakan, obrolan-obrolan yang tercipta sering kali terasa sangat "nyata," seolah-olah kita sedang duduk di meja sebelah sambil mendengarkan curhatan teman sendiri di sebuah kedai kopi.
Satu hal yang paling menonjol dari buku ini adalah kemampuannya dalam mengeksplorasi emosi yang abu-abu. Satine nggak melulu soal romansa yang manis atau konflik yang meledak-ledak, tapi lebih ke arah penerimaan diri dan bagaimana cara kita berdamai dengan pilihan-pilihan hidup yang sulit. Ada banyak kutipan-kutipan reflektif yang sukses bikin berhenti sejenak buat merenung, "Eh, ini kok aku banget ya?" Penulis sepertinya sengaja mengajak kita untuk menyelami kedalaman hati Satine tanpa harus merasa dihakimi.
Secara keseluruhan, Satine adalah bacaan yang sangat pas buat kamu yang lagi butuh teman untuk berefleksi. Meskipun alurnya mungkin terasa santai di beberapa bagian, tapi kedalaman emosi yang ditawarkan tetap konsisten sampai halaman terakhir. Buku ini membuktikan bahwa setiap orang punya "kota" dan "rahasia"-nya masing-masing, dan Ika Natassa berhasil menceritakannya dengan cara yang sangat elegan sekaligus membumi. Sangat layak untuk masuk dalam daftar koleksi buku yang perlu dibaca ulang saat sedang ingin merasa dipahami.
