MaN4MWBcLWt6MGFbMqR6MGV8MTcsynIkynwdxn1c
“Champagne Problems”: Film untuk kabur dari dunia sejenak

“Champagne Problems”: Film untuk kabur dari dunia sejenak

 

Sumber: Pinterest

oleh: Nabila Anisyah

Minuman anggur fermentasi asal Prancis ini sering dikaitkan dengan pesta perayaan yang besar, terutama pada malam natal. Itulah latar film “Champagne Problems” yang di sutradarai oleh Mark Steven Johnson, menghadirkan romansa-comedy modern yang dibalut dalam lanskap bisnis. Cerita ini berpusat pada pemeran utama Perempuan, Sydney price seorang seorang eksekutif ambisius yang dikirim ke Prancis untuk menyelesaikan akuisisi (proses mengambil alih) perusahaan champagne. Namun tujuan tersebut kini berubah sejak dia tanpa sengaja bertemu dengan pria, Henri di sebuah toko buku. Ternyata Henri adalah keturunan dari pemilik Perusahaan yang akan diakuisisi oleh Sydney.

Uniknya film “Champagne Problems” langsung syuting ke tempat anggur aslinya tidak hanya menggunakan properti yang di set di dalam studio. Selain, tempatnya syuting langsung, ada scene dimana setiap aktor mencoba Champagne, semua reaksi yang dihadirkan dari pemain adalah reaksi spontan, bukan sepenuhnya akting. Hal ini di dukung dengan melibatkan sommelier (seorang profesional ahli wine) dalam proses syuting, jadi anggur yang diminum para aktor adalah anggur asli yang premium.

Dari sisi ceritanya,“Champagne Problems” memang mengikuti pola rom-com yang familiar, bahkan dapat terprediksi. Cerita dimulai dari pertemuan yang tidak disengaja, perkembangan hubungan emosional, munculnya konflik identitas dan bisnis, hingga resolusi yang kembali menempatkan cinta sebagai keputusan akhir. Namun, justru di titik inilah film ini menunjukkan bahwa konflik akuisisi yang seharusnya dapat menjadi ruang eksplorasi ekonomi-politik yang berat, justru hanya berfungsi sebagai latar estetis bagi perkembangan hubungan romantis. Akibatnya, tensi yang dibangun terasa lebih emosional daripada substantif, lebih mengarah pada kenyamanan penonton daripada focus pada konflik yang berat.

Untuk latar dari film ini cukup memberikan kesan elegan dan atmosfer Prancis kala natal yang hangat memberikan penontonnya perasaan yang berbeda tetapi tetap terasa ringan sehingga film ini cocok untuk ditonton saat kumpul liburan, namun film ini tidak dianjurkan ditonton oleh anak kecil di bawah 13 tahun. Film ini berhasil membangun suasana “escape” yang kuat, di mana penonton diajak keluar sejenak dari realitas keras dunia kerja dan masuk ke ruang yang lebih emosional dan idealistis. Maka “Champagne Problems” bekerja efektif sebagai hiburan, bukan sebagai kritik sosial.

Jadi jika IKOMER’S mencari tontonan yang estetik, ringan dan tetap memberikan sedikit refleksi. Maka film ini cocok masuk ke daftar tontonan IKOMER’S selanjutnya.

1 komentar

  1. Anonim
    Anonim 15 Juni, 2026 12:02

    wowwww

Request Dimari Yuk!!!