Oleh: Jati Marmora Patra.W
"Aku mau wisuda minggu depan. Kamu... bisa datang?"
Tanpa ragu, aku menyanggupinya. Bukan hanya untuk menepati sebuah undangan, tapi untuk sebuah rindu yang butuh dituntaskan. Hari yang di nanti telah tiba, aku datang ke gedung pertemuan itu penuh sesak oleh lautan manusia. Aku berdiri di antara kerumunan, menggenggam seikat bunga yang mulai terasa lembap oleh keringat di telapak tanganku. Sepasang mataku bergerak liar, menyisir setiap sudut, memperhatikan ratusan wajah yang berlalu-lalang, namun sosok yang kucari tak kunjung tertangkap radar.Aku mulai lelah. Langkahku gontai, dan tebersit pikiran untuk menyerah saja mungkin menitipkan bunga ini pada salah satu temannya yang kebetulan lewat. Namun, tepat saat aku hendak berbalik, langkahku terkunci. Beberapa meter di depanku, seorang gadis sedang berdiri memunggungi keramaian, anggun dibalut kebaya bernuansa abu-abu. Aku memberanikan diri melangkah mendekat, memanggil namanya pelan. Saat dia berbalik, duniaku rasanya sempat berhenti berputar sejenak. Ternyata benar, itu dia. Tatapan matanya yang berbinar dan lengkung senyumnya masih sama persis dengan sosok yang pertama kali kupandangi di lorong sekolah bertahun-tahun lalu. Waktu seolah berpihak padanya, dia tidak berubah sedikit pun, tetap secantik memori yang kusimpan di kepala.
"Hei," sapanya lembut. Suaranya masih menjadi suara yang paling menenangkan yang pernah kudengar. Kami pun mengobrol. Di tengah riuh rendah suara bahagia orang-orang di sekitar, obrolan kami justru melempar kami kembali ke masa lalu. Tentang lorong sekolah yang saksi bisu pertemuan pertama, tentang tawa lepas di sela-sela kegiatan ekstrakurikuler, hingga memori saat kami berboncengan di atas motor, membelah angin malam dan menertawakan hal-hal konyol sepanjang jalan mengelilingi kota. Namun, realita kembali memanggil kami pulang. Hari itu juga menyadarkan kami bahwa benteng jarak kini berdiri lebih kokoh. Aku harus melanjutkan di Jogja, sementara dia melangkah mantap untuk melanjutkan studinya di Jakarta. Kami terpisah oleh ratusan kilometer. Kini, yang tersisa di genggamanku kembali menjadi sebuah kenangan. Jarak boleh memisahkan raga kami untuk tidak saling menyapa, tapi ruang di hatiku akan selalu mendoakannya. Tetaplah tumbuh dengan baik di sana. Semoga semesta menyisakan satu hari lagi untuk kita saling melempar senyum yang sama.
Insyaallah, bertemu lagi...

😔