MaN4MWBcLWt6MGFbMqR6MGV8MTcsynIkynwdxn1c
“Janji" Tere Liye: Hakikat Sebuah Kesempatan Kedua

“Janji" Tere Liye: Hakikat Sebuah Kesempatan Kedua



(Sumber : Andini L.H)

Ditulis Oleh : Andini Larasati Hanifah 

Melalui novel Janji, Tere Liye kembali menegaskan posisinya sebagai pendongeng mahir yang mampu meramu isu moral ke dalam narasi petualangan yang memikat. Terbit dengan premis yang sekilas tampak sederhana, buku ini menyoroti misi tiga santri nakal Hasan, Baso, dan Kaharudin yang ditugaskan oleh sang Buya untuk melacak keberadaan Bahar, mantan santri yang puluhan tahun silam diusir dari pesantren karena rentetan kenakalannya. Namun, pelacakan ini bukanlah sekadar misi investigasi pencarian orang hilang, ini adalah sebuah perjalanan napak tilas yang dirancang secara rapih untuk membuka mata ketiga santri tersebut tentang hakikat kehidupan, kehormatan, dan penebusan dosa.

Secara naratif, kekuatan utama novel ini terletak pada metode Pembangunan dunia karakter Bahar yang dilakukan melalui kacamata orang-orang yang pernah berpapasan dengannya. Di setiap perhentian dan kepingan informasi yang diretas oleh ketiga santri, pembaca disuguhi realitas bahwa manusia terlalu kompleks untuk sekadar dihakimi dalam pandangan hitam dan putih. Karakter Bahar yang pada bab-bab awal diperkenalkan sebagai sosok berandalan yang meresahkan, perlahan digambarkan menjadi figur manusiawi yang bergulat dengan masa lalu kelam dan upayanya menebus kesalahan. Proses penemuan berlapis yang disajikan secara bertahap ini berhasil menjaga ketegangan cerita dari awal hingga akhir.

Meskipun demikian, sebagai sebuah novel, Janji tidak lepas dari pola khas Tere Liye yang kerap menyisipkan kritik sosial dan petuah moral secara eksplisit. Bagi pembaca yang terbiasa dengan sastra yang mengedepankan show, don't tell, pendekatan ini mungkin terasa berulang atau sedikit menggurui. Selain itu, kebetulan-kebetulan yang memudahkan perjalanan investigasi ketiga santri sering kali terasa terlalu kebetulan untuk sebuah kenyataan. Namun, kelemahan minor tersebut berhasil ditutupi oleh dinamika persahabatan ketiga tokoh utama yang jenaka, sehingga tone cerita tetap seimbang dan tidak jatuh menjadi sekadar teks ceramah yang kaku.

Pesan utama dari novel Janji adalah tentang pentingnya memberi kesempatan kedua, baik untuk orang lain maupun diri sendiri. Tere Liye sukses menyajikan pesan moral dan nilai kemanusiaan lewat cerita yang ringan serta menghibur, tapi tetap mampu membuat pembacanya merenung. Jika Ikomers mencari buku yang menyentuh hati sekaligus mengingatkan kita tentang pentingnya menepati janji dan berlaku jujur, novel ini sangat layak untuk dibaca.

Nahh, kalo ikomers suka genre buku kayak buku janji ini gak? Yuk share rekomendasi buku apa aja yang menurut ikomers seruu!!


Komentar

Request Dimari Yuk!!!