MaN4MWBcLWt6MGFbMqR6MGV8MTcsynIkynwdxn1c
Mengulur Jalan Pulang, Menjemput Mimpi di Kota Orang

Mengulur Jalan Pulang, Menjemput Mimpi di Kota Orang

 

Sumber: Irine Regatta P.M

Rindu rumah memang menyakitkan, tapi buat Reine di Yogyakarta rasa kangen inilah yang justru menempa dirinya menjadi pribadi yang lebih tangguh. Di kamar kosnya yang senyap, Reine menatap kalender. Akhir Juli esok, dia akan merayakan ulang tahun yang ke-19. Usia yang perlahan menuntutnya menanggalkan jubah kekanak-kanakan. Yogyakarta, dengan segala kesederhanaan dan keistimewaannya, perlahan mulai berubah menjadi “rumah kedua” yang mendidiknya dengan keras tapi penuh memori, namun sekaligus memeluknya dengan penuh memori. 

 

Sebagai mahasiswa yang baru saja menyelesaikan ujian akhir semester dua, Reine berada di persimpangan jalan. Libur semester telah tiba, satu persatu teman kosnya sudah mengemas koper, menyisakan koridor kos yang makin sepi dan dingin. Setiap kali angin malam Jogja berembus masuk lewat celah jendela, bayangan tentang kehangatan rumah di kampung halaman makin sering menari-nari di benaknya. Aroma masakan ibu, candaan hangat di meja makan, dan sofa ruang tamu yang nyaman seolah memanggilnya untuk pulang. Namun, Reine mengambil keputusan besar yang tidak gampang, dia memilih untuk menunda kepulangannya.

 

Keputusan ini terasa berkali-kali lipat lebih berat jika menengok siapa Reine di masa lalu. Reine adalah anak kedua dari dua bersaudara. Sejak kecil, hidupnya bagaikan sebuah garis lurus yang aman dan nyaman. Dia adalah si bungsu yang tidak pernah lepas dari dekapan hangat kedua orang tua dan kakak perempuannya. Apapun yang Reine butuhkan, selalu ada. Dia tumbuh tanpa pernah merasakan apa itu kekurangan, baik dalam materi maupun perhatian. Rumah baginya adalah sebuah benteng kokoh tempatnya bermanja, sebuah zona nyaman dimana dia tidak perlu mengkhawatirkan kerasnya dunia luar. 

 

Kini, kehidupan perantauan yang ia jalani berbanding terbalik 180 derajat. Di Jogja, tidak ada lagi ibu yang menyiapkan sarapan, tidak ada ayah yang siap antar jemput, dan tidak ada kayak yang selalu membelanya. Reine harus berhadapan dengan realitas mengurus diri sendiri mulai dari memutar otak agar uang saku cukup hingga akhir bulan, mencuci baju sendiri, hingga melawan rasa sepi yang menyergap saat tubuhnya tumbang didera sakit.

 

Kesempatan untuk lepas dari jerat kesendirian itu sebenarnya ada didepan mata lewat tiket pulang. Namun, sebuah kesempatan emas lain datang mengetuk pintunya, sebuah tawaran proyek proyek shooting film pendek. Sebagai mahasiswi semester dua yang sedang mencari jati diri di industri kreatif, Reine sadar ini bukan hanya sekedar pengisi waktu luang. Ini adalah investasi besar untuk portofolio dan pengalaman masa depannya. 

 

Maka, dimulailah hari-hari menguras seluruh energinya. Kehidupan di lokasi syuting ternyata jauh apa yang dibayangkan. Reine menghabiskan waktu dari pagi buta hingga bertemu larut malam lagi dibawah langit Jogja. Dia harus belajar berhadapan dengan tekanan kru yang bergerak cepat, tuntutan sutradara, hingga ego-ego seni yang saling berbenturan. Belum lagi cuaca Jogja yang tidak menentu, sebentar terik menyengat hingga peluh membasahi baju, sebentar kemudian hujan deras turun membasahi peralatan syuting. Fisiknya yang terbiasa dimanja di rumah, kini dipaksa bekerja layaknya mesin. Lokasi syuting itu akhirnya menjadi ruang kelas baru yang dia pilih secara sadar.


Sering kali, di tengah malam saat pulang ke kos dengan tubuh yang remuk dan kaki pegal, Reine menangis sendirin di balik selimut. Dia merindukan perlindungan keluarganya. Ada kala ego kecilnya berbisik, “Untuk apa kamu sesusah ini? Kamu bisa pulang sekarang dan hidup nyaman”. 

 

Namun, Reine menepis bisikan itu. Dia tahu betul kalau jalan pulang selalu ada pintu rumahnya akan selalu terbuka lebar menerima dirinya yang manja. Tapi, dia sudah terlanjur berkomitmen pada dirinya sendiri, Reine tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Dia tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Dia tidak ingin kembali ke rumah sebagai Reine si anak bungsu yang manja.

 

Di sela-sela rasa capek yang melanda tiap kali balik dari lokasi syuting, di dalam kamar kosnya yang sunyi, ada sebuah tekad yang terus menyala. Kado ulang tahun ke-19 terbaik yang ingin dia hadiahkan buat dirinya sendiri, kedua orang tuanya, dan kakaknya adalah sebuah pembuktian. Sebuah pembuktian kalau Reine yang mandiri telah lahir. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa menyelesaikan apa yang sudah dimulai dengan tanggung jawab penuh, demi senyum bangga yang tulus menantinya di ujung jalan pulang nanti. IRPM


1 komentar

  1. Anonim
    Anonim 01 Juli, 2026 14:20

    menariiik

Request Dimari Yuk!!!